• Latest News

    Kamis, 09 November 2017

    Wajah Islam di Larantuka




    Oleh: Fadh Ahmad Arifan
    Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam di MTs-MA Muhammadiyah 2 Malang

    Larantuka adalah tanah kelahiran Alan al-Jihad Maulana Bethan. Terletak di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut pengakuan Alan, Penduduk di sana mayoritas beragama Katolik. Berdasar informasi yang saya peroleh dari laman goodnewsfromindonesia.id, masuknya agama Katolik di wilayah ini tidak terlepas dari pengaruh Portugis. Di sini pula pada abad 16 M berdiri kerajaan Katolik satu-satunya di Nusantara.
    Jumlah umat Islam belum begitu banyak. Belum ada pondok pesantren dan Taman Pendidikan Qur’an (TPQ). Bila anak-anak di pulau Jawa berangkat mengaji ba’da ashar, maka karena di sana belum ada TPQ, tiap sore anak-anak mengisi waktu luang dengan bermain. Tetapi usai maghrib, sebagian anak-anak ada yang berinisiatif mengaji ke rumah ustadz.
    Pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Inpres hanya dijatah 2 jam dalam sepekan. Itu pun yang diajarkan bukan fikih ibadah apalagi tauhid. Meski kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolahnya Alan berakhir pada jam 12.00 WIB, di sana tidak ada kegiatan dhuhur berjamaah. Alan mengaku baru mengenal dhuhur berjamaah saat ia nyantri di Ponpes Muhammadiyah al-Munawwaroh. Lantas bagaimana dengan shalat Jum’at di Larantuka? Adzan shalat Jum’at hanya sekali. Sebelum adzan berkumandang, pengurus masjid memukul bedug. Khatib naik mimbar sambil memegang tongkat. Tidak ada bacaan shalawat Nabi saat khatib duduk di antara dua khutbah.
    Di Kecamatan Larantuka masih dijumpai tradisi kaum sarungan. Meski di sana tidak dikenal istilah pengikut NU atau Muhammadiyah. Tetapi tiap malam Jum’at, para ustadz yang merantau dari Jawa rutin menggelar yasinan dan shalawatan. Jika ada orang meninggal dunia, digelar pembacaan doa dan yasin selama 3 hari. Kemudian tradisi ini digelar kembali saat hari ke 40 dan ke 100.
    Berbicara tentang hijab, remaja muslimah di Larantuka tidak mengenakan hijab. Akan tetapi kata Alan, semua ibu-ibu yang berumur di atas 40 tahun sudah istiqamah berhijab. Adapun wanita hamil yang memasuki fase 7 bulan juga tidak menggelar tradisi/ritual tingkeban seperti di pulau Jawa.
    Jelang bulan puasa, tidak ada pawai menyambut Ramadhan seperti yang Alan saksikan langsung di Kota Malang. “Tiap bulan Ramadhon, sekolah saya libur selama sebulan pak,” ujar Alan. Rakaat Tarawih di Larantuka tergantung imamnya. Sebagian menggelar 23 rakaat. Shalat Tarawih berjalan ekspress, imam hanya membaca surah al-ikhlas. Tentang tradisi nyekar, penduduk muslim di Larantuka menggelar ziarah kubur. Setelah shalat hari raya Idul Fitri, ke kuburan lagi untuk bersih-bersih dan memanjatkan doa.
    Suasana musim haji di Larantuka ada kemiripan dengan pulau Jawa. Calon jamaah haji saat berangkat dan kembali pulang dari Arab Saudi disambut penduduk se-kampung, diarak sampai menuju kediamannya. Sebagian orang yang mampu menunaikan ibadah haji berprofesi sebagai PNS guru, pegawai di kantor kecamatan dan KUA.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Wajah Islam di Larantuka Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top