• Latest News

    Senin, 15 Januari 2018

    Mengenal, Mengabdi, dan Menjadi Muhammadiyah

    ~Mengenal, Mengabdi, dan Menjadi Muhammadiyah~


    A. Ideologi Muhammadiyah

    Ideologi Muhammadiyah terdiri dari beberapa fase pembentukan. Fase-fase tersebut diawali oleh gagasan-gagasan dan pokok pikiran KH. Ahmad Dahlan sebagai tokoh skaligus pelopor pendiri organisasi ini.

    Fase yang pertama termaktub dalam muqodiimah anggaran dasar Muhammadiyah yang diprakarsai oleh Ki Bagus Hadi kusumo yang disahkan dalam sidang tanwir tahun 1951. Hal ini dilakukan karena Muhammadiyah saat itu sudah berdiri cukup lama dan banyak terjadi kekaburan konsep dalam diri Muhammadiyah itu sendiri yang terjadi akibat banyaknya pengaruh dari luar lingkungan Muhammdiyah yang masuk dalam lingkungan internal organisasi ini.

    Landasan anggaran dasar ini didirikan adalah Muhammadiyah sebagai suatu organisasi, merupakan alat perjuangan untuk mencapai suatu cita, suatu tujuan yang telah termaktub dalam cita-cita hidup Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat muslim yang sebenar-benarnya berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah dari Rasululloh Muhammad SAW sebagai dua warisan yang harus dijaga dan diimplementasikan dalam kehidupan duniawi untuk menuju ke kehidupan ukhrowi yang abadi.

    Fase yang kedua adalah kepribadian Muhammadiyah yang disusun pada tahun 1961. Kepribadian Muhammadiyah merupakan kepribadian yang memang sudah ada sejak berdirinya organisasi Muhammadiyah itu sendiri. Dalam hal ini KH. Faqih Utsman hanya menegaskan atau menjelaskan, bukan mengubah prinsip dasar tersebut yang sudah ada sejak berdirinya.

    Muhammadiyah dalam kepribadiannya adalah merupakan suatu organisasi yang beranggapan bahwa untuk mengubah dan mewujudkan masyarakat dan negara yang makmur, adil dan sejahtera dan tunduk pada perintah Alloh SWT dan Rasul-Nya adalah dengan mengubah pola hidup dan pola pikir masyarakatnya, bukan dengan jalan politik.

    Muhammadiyah bergerak bukan untuk Muhammadiyah sebagai golongan. Hal ini saya garis bawahi karena banyak perspektif baik dari anggota maupun non-anggota diluar organisasi ini yang beranggapan bahwa ini adalah pergerakan golongan.

    Muhammadiyah memang sebuah organisasi, namun tujuannya adalah untuk menegakkan Islam melalui organisasi. Dan hal ini sesuai sekali dengan pesan Ali Radiyallohu anhu : “Kejahatan yang terorganisir akan lebih unggul dibandingkan kebaikan yang tidak terorganisir.”

    Fase berikutnya adalah penyusunan matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah yang disahkan pada tahun 1969. Setidaknya ada 5 pokok isi dari matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah, yaitu:

    Muhammadiyah merupakan gerakan berasaskan Islam untuk menegakkan agama Islam dan tugas manusia sebagai khalifah di bumi.

    Muhammadiyah berkeyakinan bahwa agama Islam adalah agama Tauhid yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya sejak zaman Nabi Adam ‘alaihissalam hingga Nabi Muhammad SAW.

    Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasar pada al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW dengan menggunakan akal pikiran yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam.

    Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam meliputi bidang: aqidah, akhlaq, ibadah dan mu’amalah duniawiyah.

    Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Alloh SWT berupa tanah yang subur serta air yang melimpah dan segala keindahannya untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu negara yang adil dan makmur serta diridhoi oleh Alloh SWT.

    Fase terakhir ideology Muhammadiyah berujung pada penyusunan pedoman hidup Islam warga Muhammadiyah yang disahkan pada tahun 2000. Pedoman hidup Islam warga Muhammadiyah adalah seperangkat nilai dan norma-norma kehidupan yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits untuk menjadi tuntunan dan pola hidup sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

    Pedoman yang disusun oleh Muhammadiyah meskipun berlandaskan pada al-Qur’an dan al-Hadits juga tetap bersifat aktual, artinya selain mengacu pada dua hal pokok, Muhammadiyah juga menerapkan arro’yu baik itu qiyas, ijma’ maupun ijtihad.

    Dalam pedoman ini sesuai dengan cita-cita hidupnya, maka tentunya saya melihat misi sebagai khalifah dibumi merupakan dasar dari pedoman hidup warga Islam Muhammadiyah ini. Maka dalam hal pedoman hidup, ada 11 bidang Kehidupan yang dirumuskan dalam pedoman hidup Islam warga Muhammadiyah:

    1. Kehidupan Pribadi
    2. Kehidupan dalam keluarga
    3. Kehidupan bermasyarakat
    4. Kehidupan berorganisasi
    5. Kehidupan dalam mengelola amal usaha
    6. Kehidupan dalam berbisnis
    7. Kehidupan dalam mengembangkan profesi
    8. Kehidupan dalam berbangsa dan bernegara
    9. Kehidupan dalam melestarikan lingkungan
    10. Kehidupan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
    11. Kehidupan dalam seni dan budaya

    Seperti kita ketahui bahwa misi khalifah merupakan misi mulia yang diamanahkan kepada manusia agar manusia dapat memelihara semesta ini dengan menjaga keseimbangannya yang telah Alloh SWT atur dengan kekuasaanNya. Oleh karena itu Muhammadiyah dalam ideology yang didalamnya ada pedoman berkehidupan Islam warga Muhammadiyah tidak hanya memperhatikan aspek ubudiyah yang merupakan ritual saja, namun lebih luas kepada nilai-nilai ubudiyah terhadap hubungan horizontal sesama manusia, tumbuhan, serta keseluruhan alam dan segala isinya.

    B. Strategi Muhammadiyah

    Strategi dalam hal ini merupakan bagian dari gagasan dan pokok pikiran KH. Ahmad Dahlan yang bersifat dinamis. Karena dalam hal ini strategi dapat berubah-ubah sesuai dengan permasalahan yang dihadapi, namun tentunya tidak boleh melanggar apa yang sudah ditetapkan pada ideologi.

    Pada organisasi Muhammadiyah strategi ini termaktub dalam khittah-khittah perjuangan yang terdiri dari beberapa khittah yang juga berbeda-beda pada setiap disahkannya khittah tersebut.

    Ada lima langkah khittah atau pokok pikiran yang bersifat strategis dalam organisasi Muhammadiyah ini. Khittah yang pertama dengan khittah yang ada pada tahun 2002 sangatlah jauh berbeda. Khittah pada awal masa berdiri tidak lain masih berkutat pada pemurnian ajaran Islam di Indonesia pada pendekatan praktek peribadatannya dan apa-apa yang berkaitan dengan kebudayaan yang perlu ditinggalkan karena tidak sesuai dengan tuntunan agama Islam yang sebenarnya.

    Langkah pertama dikenal dengan langkah Muhammadiyah tahun 1938-1940. Jika kita melihat tahun ini tentunya merupakan tahun yang sangat jauh dari tahun berdirinya organisasi Muhammadiyah itu sendiri. Pada periode ini terdapat 12 langkah, yaitu:

    1. Memperdalam masuknya iman
    2. Memperluas paham agama
    3. Memperbuahkan budi pekerti
    4. Menuntun amal intiqod
    5. Menguatkan persatuan
    6. Menegakkan keadilan
    7. Melakukan kebijaksanaan
    8. Menguatkan majelis tanwir
    9. Mengadakan konfrensi bagian
    10. Mempermusyawarahkan putusan
    11. Mengawasi gerakan jalan
    12. Mempersambungkan gerakan luar.

    Mari kita lihat beberapa perbedaan ataupun perubahan pada langkah-langkah selanjutnya yang disebut dan dikenal dengan istilah khittah. Pada khittah di Palembang tahun 1956-1959 hanya dituliskan 7 khittah dengan strategi perjuangan yang berbeda, setidaknya menurut saya pada langkah ini Muhammadiyah lebih menitik beratkan khittahnya pada pengokohan organisasi dengan merapikan segala bentuk structural dalam organisasi Muhammadiyah itu sendiri. Berikut dibawah ini hasil khittah di Palembang :

    1. Menjiwai pribadi para anggota terutama para pemimpin yang ada di Muhammadiyah.
    2. Melaksanakan uswatun hasanah
    3. Mengutuhkan organisasi dan merapikan organisasi
    4. Memperbanyak dan mempertinggi mutu amal
    5. Mempertinggi mutu anggota dan membentuk kader
    6. Mempererat ukhuwah
    7. Menuntun penghidupan anggota.

    Perbandingan yang besar terlihat sekali pada khittah di Ponorogo tahun 1969. Dari yang saya baca pada buku ini disebutkan bahwa pada Khittah ini Muhammadiyah mulai mengembangkan sayap pergerakannya dengan berpolitik. Dalam salah satu langkahnya disebutkan bahwa dakwah Islam harus dilakukan melalui 2 bidang secara simultan, yaitu melalui masyarakat dan politik kenegaraan atau politik praktis.

    Muhammadiyah meluaskan langkahnya dengan partai politik yang tentunya harus sesuai dengan ideologis Muhammadiyah namun tidak memiliki hubungan secara organisatoris dengan Muhammadiyah hal ini ditegaskan juga dalam Khittah 2002 di Denpasar.

    Pesan yang dapat diambil adalah bahwa apapun yang dilakukan anggota Muhammadiyah dengan partai politiknya haruslah mencerminkan dan membawa misi Muhammadiyah yang tercantum dalam ideologi Muhammadiyah. Apapun partai politik yang didalamnya berkumpul para anggota Muhammadiyah bukan berarti partai tersebut milik Muhammadiyah atau berinduk pada Muhammadiyah, melainkan partai tersebut berdiri sendiri dan didukung oleh Muhammadiyah karena memiliki visi dan misi yang sama dengan organisasi ini.

    #Hidup-hidupilah Muhammadiyah

    Sumber: Buku Memahami Ideologi Muhammadiyah karya Haedar Nashir
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Mengenal, Mengabdi, dan Menjadi Muhammadiyah Rating: 5 Reviewed By: Isnaini Sofiana
    Scroll to Top