• Latest News

    Kamis, 25 Januari 2018

    Selamat dan Sukses Munas Tarjih XXX

    ~ Pidato Iftitah Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir pada Munas Tarjih XXX~

    Balai Sidang Muktamar, Unismuh Makassar, 24 Januari 2018

    1.      Atas nama pimpinan pusat Muhammadiyah menngucapakan selamat dan sukses Munas Tarjih XXX.

    2.      Munas ini saya pikir akan menghasilkan putusan yang sangat strategis bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

    3.      Munas Tarjih merupakan forum resmi dalam Muhammadiyah untuk memutuskan hal-hal penting terkait tarjih dan tajdid.

    4.      Bagi kita, agenda Munas ini tidak hanya sekedar seremonial, tapi juga dapat digunakan sebagai ajang untuk mendialogkan hal-hal substantif.

    5.      Muktamar _Khususi_ Tarjih yang pertama kali membahas _Masailul Khamsah_. Dalam Muktamar Khususi ini, KH Mas Mansyur sampai mengundang ulama-ulama dari Persis, karena membahas persoalan-persoalan yang besar.

    6.      Yang kita harapkan sekarang adalah, bagaimana _masailul khamsah_ itu bisa kita perluas kembali maknanya, sehingga bisa menyentuh persoalan yang substantif.

    7.      Tahun 70-an, Dr. Nurcholish Majdid memperkenalkan gagasan tentang hubungan antara agama dan dunia.

    8.      Kalau kita mau melanjutkan gagasan tersebut sebenarnya baik sekali, karena kita sudah punya _masailul khamsah_.

    9.      Meskipun demikian, sekarang kita sudah merespons persoalan-persoalan kontemporer dan perkembangan-perkembangan baru.

    10.  Akhir abad ke-20 kita menghadapi gagasan modernisme, yang jika Muhammadiyah tidak menanggapi itu, akan kehilangan disorientasi

    11.  Di kehidupan politik kita juga menghadapi kemunculan rezim otoriter yang sebagian besar umat Islam belum siap menghadapi itu.

    12.  Ketika itu kita sebenarnya cukup mampu merespons persoalan-persoalan tersebut

    13.  Dengan terus menerusnya perubahan zaman dan perkembangan teknologi informasi, kita harus mampu menghadirkan Islam sebagai solusi.

    14.  Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) sesungguhnya adalah jalan tengah yang diambil oleh Muhammadiyah untuk memberikan pedoman bagi warga dan umat Islam di satu sisi, tapi tidak terlepas dari aspek epistemologis yang terkandung dalam _masailul khamsah_ dan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH).

    15.  Saya juga ingin mendorong Muhammadiyah untuk melanjutkan proyek Risalah Islam yang sempat _mauquf_. Padahal, pada Munas Tarjih di Klaten gagasan-gagasan awal tentang itu sudah mulai muncul dari Prof. H.M. Rasjidi.

    16.  Rumusan Risalah Islam ini sebenarnya bisa dilacak dalam dokumen-dokumen Muhammadiyah. Maka Majelis Tarjih dan MPI berkewajiban untuk menulusuri dokumen ini.

    17.  Saya pernah mencoba mencari dokumen-dokumen tersebut, dan saya menemukan identitas Islam yang sebenar-benarnya.

    18.  Pekerjaan Majelis Tarjih sangat besar dan raksasa.

    19.  Alhamdulilah, kita bersyukur Muhammadiyah sudah punya Fikih yang sifatnya kontemporer. Ini merupakan bukti bawah Majelis Tarjih dan Muhammadiyah cukup responsif terhadap persoalan-persoalan baru.

    20.  Yang menarik bagi saya, sebagaimana yang diinformasikan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid dan Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi Tarjih, adalah istilah _Fikih_ yang digunakan Muhammadiyah berbeda dengan istilah _fikih_ pada zaman dulu.

    21.  Tantangannya adalah, sekarang bahwa produk fikihnya sudah banyak dihasilkan tapi juga mugkin perlu epistemologi usul fikihnya perlu dirumuskan juga.

    22.  Kita perlu memiliki kostruksi usul fikihnya dan dijadikan satu paket dengan Manhaj Tarjih.

    23.  Sudah saatnya kita mengerjakan proyek besar. Kita sudah memulai dengan menulis Tafsir al-Tanwir, itu sudah lumayan tapi perlu kita percapat dan kerjakan yang lain.

    24.  Masukan-masukan dari para pemikir kontemporer sudah selayaknya dijadikan pertimbangan oleh Muhammadiyah

    25.  Ada dua arus pemikiran besar yang akan menghegemoni ke depan: _Pertama_, arus pemikiran yang bercorak humanisme. Berbagai persoalan baru yang muncul pasti akan diwarnai dengan corak ini, baik yang humanisme religius maupun humanisme sekuler. Misalnya, persoalan fikih informasi yang di dalamnya ada media sosial. Arus pemikiran kedua bercorak teosentrisme. Semua dikaitkan dengan islami-islami, rabbaniyah. Contohnya, baju yang Islami seperti ini dan itu. Semuanya dikembalikan kepada romantisme masa lalu. Di antara dua pendulum inilah seharusnya posisi Muhammadiyah. Tapi ini juga bukan berarti Muhammadiyah bersifat abu-abu.

    26.  Pasca Tafsir al-Tanwir, saya harap ada dua proyek besar selanjutnya yaitu Fikih al-Tanwir dan Risalah Islamiyyah.

    27.  Saya yakin, Fikih Perlindungan Anak nanti di dalamnya ada kaitannya dengan tarbiyah anak. Dan fikih perlindungan anak ini berangkat dari paradigma modernisme dan praktik modernitas yang terjadi sekarang. Oleh karenanya, kita perlu melacak khazanah Islam tentang persoalan ini, Misalnya Jamal albana. Namun itu terlalu bercarak rabbaniyyah. Nah, di sini kita perlu menafsirkan ulang. Saya melihat ada fenomena sekolah-sekolah PAUD yang membentuk anak-anak menjadi “sholeh terlalu dini” dan mengabaikan sisi kekanak-kanakannya. Sehingga kontruksi ini akan membentuk anak yang serba anti ini, anti itu, dan lain sebagainya.

    28.  Masyarakat lama paradigmanya personal-interaksi langsung-relasional. Misalnya, orang mau silaturahim, datangi rumahnya. Seiring terjadinya perkembangan tekonologi, paradigma ini berubah menjadi impersonal-interrelasional. Orang mau silaturahim cukup dengan media sosial dan lain-lain. Dengan fenomena ini, ada yang hilang: realitas nyata. Salah satu efeknya adalah munculnya realitas buatan. Dan ini yang menyebabkan informasi _hoax_. Fenomena komunikasi impersonal juga akan menghilangkan dimensi “rasa”. Selain dimensi “rasa”, yang hilang juga adalah “daya kritis/nalar kritis”. Contohnya adalah fenomena berita viral. Dalam informasi viral itu akan hilang nalar kritis seseorang, karena hanya ingin dianggap sebagai pewarta pertama.  Hal ini akan menumbuhkan rasa ingin instan dari setiap diri seseorang.

    29.  Menurut salah satu antropolog, masyarakat yang terlalu menghambakan dan mengandalkan diri pada teknologi, maka dia akan mengalami mati kebudayaan dan fitrah kemanusiaannya.

    30.  Fenomena _money politic_ dan politik transaksional sebenarnya adalah fenemona pinggiran yang muncul dari sebuah proses demokrasi yang harus kita baca secara utuh. Kita harus menelusurinya dari demokrasi liberal yang dianut oleh masyarakat Indonesia.

    31.  Letak kesenjangan masyarakat demokrasi kita ini sebanarnya muncul dari ketidaksiapan masyarakat menerima proses demokrasi yang sudah berjalan. Dengan kata lain, demokrasinya sudah berjalan dan hampir matang, tapi masyarakatnya belum matang dan memiliki kedewasaan berpolitik.

    32.  _Money politic_ sekarang juga dipengaruhi oleh sturuktur politik. Terjadi kohesi yang sangat rapi antara berbagai elemen. Misalnya, dalam rezim Orde Baru, beberapa elemen seperi pebisnis, dan lain-lain, tidak terlalu kohesi. Tapi sekarang pebisnis, pemodal, dan lain-lain, menjalin hubungan yang erat dengan para pelaku politik.

    33.  Jika kita tidak memberikan tuntunan tentang berpolitik, maka ke depan dunia politik akan semakin suram karena terjadinya sekularisasi dan kapitalisasi

    34.  Secara resmi saya buka Munas Tarjih ke-30 ini dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim.

    Sumber: Tim Notulen Munas Tarjih XXX

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Selamat dan Sukses Munas Tarjih XXX Rating: 5 Reviewed By: Isnaini Sofiana
    Scroll to Top