• Latest News

    Senin, 05 Maret 2018

    "ILMU", Jangan Tinggalkan Aku


    Pertama kali Imam Syafi’i berguru ke Imam Malik, Imam Syafi’i takjub dengan kecerdasan, kejeniusan, dan kekuatan hafalannya. Lalu beliau memberikan pesan: “Sesungguhnya aku melihat Allah telah menganugerahkan cahaya di hatimu maka jangan padamkan cahaya itu dengan gelapnya maksiat”. 

    Ilmu adalah cahaya yang Allah pancarkan kepada orang yang mau mencarinya. Mencarinya dengan penuh ketaatan, namun jika hanya mencarinya untuk kepentingan duniawi dan eksistensi diri. Sungguh, Allah murka terhadapnya. Bagi orang yang berilmu Allah sudah menjanjikan kepadanya dengan menaikkan derajat bagi pengembara ilmu. Perlu diketahui ada satu bencana bagi orang-orang pencari ilmu yaitu “Afatul ilmi nisyaanun” bencana ilmu itu adalah LUPA. Orang yang menghargai sebuah ilmu, sungguh kehilangan ilmu itu lebih menyedihkan dari pada kehilangan harta, tahta, dan segala sesuatu yg berharga di dunia ini. Orang yang kehilangan ilmu salah satu penyebabnya adalah tidak masuknya cahaya ilmu itu kedalam hati dan sesuatu yang menjadi penghalang itu adalah maksiat, bahkan maksiat pun bisa melenyapkan cahaya yang sudah ada dihati itu. Jika ada orang pintar yang sulit menghafal satu ilmu bisa jadi maksiat penyebabnya. begitu pula jika orang yang sudah menghafal suatu ilmu lalu dia lupa akan ilmu yang dihafalnya besaar kemungkinan disebabkan oleh dosanya.

    Sekarang coba kita intopeksi diri, muhasabah diri. Berapa kali kita mencoba menghafal suatu ilmu dan berapa banyak yang sudah lenyap dari ingatan kita. Seperti Imam Syafi’i yang pernah mengalami problem yang serius perihal hafalannya lalu Al Waki’ bin Jarah menasihatinya “bertaubatlah!!!!” seelah itu Imam Syafi’i mengingat dosa dan bertaubat, dan hafalan pun menjadi lancar. Begitu dahsyatnya maksiat sehingga bisa menutup semua cahaya. Cahaya Allah tidak akan dikaruniakan kepada pendosa. Suatu kemaslahatan awalnya, berat di nafsu tapi kesungguhan dan kemauan yang kuat, jdan juga ketekunan dalam menjalaninya akan mengubahnya menjadi sesuatu yang menyenangkan.

    Ilmu memang harus dicari dengan susah payah, dicari dengan penuh perjuangan. “Barang siapa yang belum pernah merasakan satu kesusahan dalam mencari ilmu, maka ia akan mengenyam pahitnya kebodohan selama hidupnya” (Imam Syafi’i). Long life education.

    Pertama kali Imam Syafi’i berguru ke Imam Malik, Imam Syafi’i takjub dengan kecerdasan, kejeniusan, dan kekuatan hafalannya. Lalu beliau memberikan pesan : “Sesungguhnya aku melihat Allah telah menganugerahkan cahaya di hatimu maka jangan padamkan cahaya itu dengan gelapnya maksiat” . 

    Ilmu adalah cahaya yang Allah pancarkan kepada orang yang mau mencarinya. Mencarinya dengan penuh ketaatan, namun jika hanya mencarinya untuk kepentingan duniawi dan eksistensi diri. Sungguh, Allah murka terhadapnya. Bagi orang yang berilmu Allah sudah menjanjikan kepadanya dengan menaikkan derajat bagi pengembara ilmu. Perlu diketahui ada satu bencana bagi orang-orang pencari ilmu yaitu “Afatul ilmi nisyaanun” bencana ilmu itu adalah LUPA. Orang yang menghargai sebuah ilmu, sungguh kehilangan ilmu itu lebih menyedihkan dari pada kehilangan harta, tahta, dan segala sesuatu yg berharga di dunia ini. Orang yang kehilangan ilmu salah satu penyebabnya adalah tidak masuknya cahaya ilmu itu kedalam hati dan sesuatu yang menjadi penghalang itu adalah maksiat, bahkan maksiat pun bisa melenyapkan cahaya yang sudah ada dihati itu. Jika ada orang pintar yang sulit menghafal satu ilmu bisa jadi maksiat penyebabnya. begitu pula jika orang yang sudah menghafal suatu ilmu lalu dia lupa akan ilmu yang dihafalnya besaar kemungkinan disebabkan oleh dosanya.

    Sekarang coba kita intopeksi diri, muhasabah diri. Berapa kali kita mencoba menghafal suatu ilmu dan berapa banyak yang sudah lenyap dari ingatan kita. Seperti Imam Syafi’i yang pernah mengalami problem yang serius perihal hafalannya lalu Al Waki’ bin Jarah menasihatinya “bertaubatlah!!!!” seelah itu Imam Syafi’i mengingat dosa dan bertaubat, dan hafalan pun menjadi lancar. Begitu dahsyatnya maksiat sehingga bisa menutup semua cahaya. Cahaya Allah tidak akan dikaruniakan kepada pendosa. Suatu kemaslahatan awalnya, berat di nafsu tapi kesungguhan dan kemauan yang kuat, jdan juga ketekunan dalam menjalaninya akan mengubahnya menjadi sesuatu yang menyenangkan.

    Ilmu memang harus dicari dengan susah payah, dicari dengan penuh perjuangan. “Barang siapa yang belum pernah merasakan satu kesusahan dalam mencari ilmu, maka ia akan mengenyam pahitnya kebodohan selama hidupnya” (Imam Syafi’i). Long life education.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: "ILMU", Jangan Tinggalkan Aku Rating: 5 Reviewed By: Isnaini Sofiana
    Scroll to Top